Soal :
Ustadz Rivaldy.. Gimana hukumnya bersalaman dg non mahram.. Soalnya kita kalau lebaran suka kumpul2 terus suka ada saudara dan kerabat datang.
Jawab :
Bersentuhan (termasuk di dalamnya bersalaman) dengan non mahram adalah haram.
Dalilnya :
1). Hadits riwayat Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ "
Dari Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam, beliau bersabda : “Sudah ditakdirkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina yang pasti menimpanya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; zina kedua telinga adalah mendengar; zina lisan adalah ucapan; zina tangan adalah memegang; zina kaki adalah langkah; dan zina hati adalah menghendaki sesuatu (berangan-angan); dan farajnya (kemaluannya) membenarkan atau mendustakannya” [HR. Muslim no. 2657].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
معنى الحديث أن ابن آدم قدر عليه نصيب من الزنا فمنهم من يكون زناه حقيقياً بإدخال الفرج في الفرج الحرام، ومنهم من يكون زناه مجازاً بالنظر الحرام أو الاستماع إلى الزنا وما يتعلق بتحصيله، أو بالمس باليد بأن يمس أجنبية بيده أو يقبلها، أو بالمشي بالرجل إلى الزنا أو النظر أو اللمس أو الحديث الحرام مع أجنبية ونحو ذلك، أو بالفكر بالقلب،
“Makna hadits ini adalah bahwa sudah ditakdirkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina yang pasti menimpanya. Di antaranya ada yang ditimpa zina secara hakiki, yaitu dengan masuknya farji ke dalam farji yang diharamkan. Di antaranya pula ada yang ditimpa zina secara majaziy, yaitu dengan memandang atau mendengar sesuatu yang haram atau dengan menyentuh wanita ajnabiyyah(yang bukan mahramnya) dengan tangannya atau menciumnya, atau berjalan kaki dengan tujuan zina, atau bercakap-cakap untuk membicarakan sesuatu yang haram dengan wanita ajnabiyyah. Zina juga bisa lewat berpikir dengan hati akan sesuatu yang haram…” [Syarh Shahih Muslim, 16/206].
Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengatakan :
وَحَيْثُ حُرِّمَ نَظْرُهُ حُرِّمَ مَسُّهُ بِلَا حَائِلٍ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِيْ اللَّذَّةِ.
Sekiranya haram melihatnya maka haram pula menyentuhnya tanpa pemisah, karena memegang itu lebih menimbulkan lezat(syahwat). [Fathul Mu'in, hal. 98]
2). Ada riwayat dari Ma'qil Ibn Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ
Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya. [HR. Thobroni, dalam Mu'jam Al Kabir, 20/211]
Inilah dalil yang jelas melarang laki laki dan perempuan non mahram untuk bersentuhan kulit. Termasuk bersalaman.
Adapun jika ada yang mengatakan, bahwa boleh menyentuh non mahram dengan dalil Rasulullaah memegang tangan non mahram(bersentuhan langsung) saat bai'at Aqabah, maka hal tersebut dibantah oleh riwayat dari 'Aisyah. Ia berkata :
وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ وَمَا بَايَعَهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ
Demi Allah, tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan perempuan sama sekali dalam baiat. Beliau tidak membaiat para wanita kecuali dengan perkataan (saja). [HR Al-Bukhari, 4891].
Juga ada hadits, dari Umaimah binti Ruqaiqah radliyallaahu ‘anhaa.
جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ، فَقَالَ لَنَا: " فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ، إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءِ
"Aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama wanita-wanita lain untuk berbaiat kepada beliau. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami : “Terhadap apa saja yang kalian mampu dan sanggup melakukannya. Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan para wanita” [HR. Ibnu Maajah no. 2874].
Ibnu ‘Abdil-Barr
rahimahullah berkata :
“Adapun mengulurkan tangan dan berjabat tangan dalam baiat, maka hal itu merupakan sunnah yang dianjurkan, karena Rasulullahshallallaahu ‘alayhi wa sallam dan al-khulafaaur-raasyiduun setelah beliau melakukannya. Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak berjabat tangan dengan wanita” [Al-Istidzkaar, 8/545].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
وَفِي الْحَدِيث أَنَّ كَلَام الْأَجْنَبِيَّة مُبَاح سَمَاعه وَأَنَّ صَوْتهَا لَيْسَ بِعَوْرَةٍ ، وَمَنَعَ لَمْس بَشَرَة الْأَجْنَبِيَّة مِنْ غَيْر ضَرُورَة لِذَلِكَ
“Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa perkataan wanita ajnabiyyah boleh didengarkan dan suara mereka bukanlah aurat; serta dilarang untuk menyentuh kulit mereka bila tidak dalam keadaan darurat” [Fathul-Baari, 13/204].
Sedangkan soal hadits Ummu Haraam radliyallaahu ‘anhaa yang menunjukkan Rasul disentuh oleh non mahram, maka jelasnya adalah sebagai berikut. Dari Anas ibn Malik ia berkata,
"Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah menemui Ummu Haram binti Milhan - isteri ‘Ubadah bin Ash-Shaamit – yang kemudian ia (Ummu Haram) menghidangkan makanan untuk beliau. Setelah itu Ummu Haram membersihkan rambut beliau (dari kutu), hingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tertidur. Tiba-tiba beliau terbangun sambil tertawa. Ummu Haram bertanya : "Apa yang menyebabkanmu tertawa wahai Rasulullah ?". Beliau bersabda : “Sekelompok umatku diperlihatkan Allah ta'ala kepadaku. Mereka berperang di jalan Allah mengarungi lautan dengan kapal, yaitu para raja di atas singgasana atau bagaikan para raja di atas singgasana" - perawi ragu antara keduanya - . Ummu Haram berkata : "Wahai Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka." Kemudian beliau mendoakannya. Setelah itu beliau meletakkan kepalanya hingga tertidur.. [HR. Muslim no. 1912].
Terkait hadits ini, sebagian ulama berpendapat bahwa Ummu Haraam radliyallaahu ‘anhaa adalah mahram Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sebab persusuan.
Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :
“Ibnu Wahb berkata : ‘Ummu Haraam adalah salah satu di antara bibi-bibi Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam dengan sebab persusuan. Oleh sebab itu, beliau pernah tidur siang di sisinya dan tidur di kamarnya. Dan Ummu Haraam pun pernah membersihkan rambut beliau’. Abu ‘Umar (Ibnu ‘Abdil-Barr) melanjutkan : “Seandainya Ummu Haraam tidak mempunyai hubungan mahram, niscaya beliau tidak menziarahinya, dan tidak pula berada di sisinya,wallaahu a’lam” [Al-Istidzkaar, 5/25].
Akan tetapi, jawaban yang tepat ialah bahwa hal tersebut merupakan kekhususan bagi Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam. Lagipula adanya kekerabatan antara Nabi dengan Ummu Haram menyebabkan hal tersebut adalah perkara yang masih sangat wajar bagi Nabi. Nabi adalah orang yang ma'shum, tidak berhasrat pada Ummu Haram dan saat itu beliau telah berusia lanjut.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
وَحَكَى اِبْن الْعَرَبِيّ مَا قَالَ اِبْن وَهْب ثُمَّ قَالَ : وَقَالَ غَيْره بَلْ كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعْصُومًا يَمْلِك أَرَبَهُ عَنْ زَوْجَته فَكَيْف عَنْ غَيْرهَا مِمَّا هُوَ الْمُنَزَّهُ عَنْهُ ، وَهُوَ الْمُبَرَّأ عَنْ كُلّ فِعْلٍ قَبِيحٍ وَقَوْلٍ رَفَثٍ ، فَيَكُون ذَلِكَ مِنْ خَصَائِصه
“Dan Ibnul-‘Arabiy menghikayatkan apa yang dikatakan Ibnu Wahb, lalu berkata : Telah berkata selain dirinya : Akan tetapi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seorang yang ma’shum yang dapat menahan hawa nafsunya terhadap istrinya. Lantas bagaimana halnya dengan selain istrinya yang beliau bersih dari hawa nafsu terhadapnya ?. Beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam terbebas dari segala perbuatan keji dan perkataan kotor. Oleh karena itu, hal itu termasuk kekhususan-kekhususan beliau” [Fathul-Baari, 11/78-79].
Lalu Ibnu Hajar rahimahullah memberi kesimpulan : “Dan jawaban terbaik adalah anggapan hal tersebut sebagai kekhususan, dan ini tidak dapat ditolak oleh keberadaannya yang tidak ditetapkan kecuali dengan dalil, karena dalil tentang hal tersebut adalah jelas, wallaahu a’lam” [Fathul-Baari, 11/79].
🍂 Mari sebarluaskan ilmu..
🌸 Telegram Ngaji FIQH
0 komentar: