Jumat, 22 Juni 2018

ADEGAN DAGING IMPORAN DARI NEGERI SHAHRUKH KHAN


Oleh: Siti Maisaroh, S.Pd


Terkenal sebagai Negara pengimpor, Indonesia dikenal ramah oleh Negara-negara lain. Baru-baru ribut soal beras impor dari Vietnam dan Thailand yang menindas nasib para petani padi. Kini pemerintah memperluas akses impor daging persiapan lebaran dari negeri Shahrukh khan. 

Jual beli antar negara, memang hal mubah untuk dilakukan. Tetapi, bukan berarti meninggalkan rambu-rambu perdagangan yang ada. Inilah fakta yang ada,  Indonesia mengimpor daging kerbau dari India. Menurut Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita alokasi impor daging kerbau India sebanyak 100.000 ton. (detik finance). Belum lagi ditambah impor daging sapi beku asal Australia. 

Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) mengaku  kesulitan bersaing dengan komoditas daging  impor seiring dengan kebijakan yang diterapkan  pemerintah. "Sekarang ini peternak sapi lokal itu dalam penungguan, tapi lebih menunggu untuk hancur. Berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang lebih menitikberatkan yang pro pada kepentingan konsumen," katanya dalam acara Roundtable Discussion Koran Sindo di Hotel A One, Jakarta, Rabu (21/9/2016).

Mungkin lebih tepatnya lebih mengedepankan nasip para penguasa dan pengusaha atau kartel-kartel dinegara importer daging, khususnya India dan Australia. Karena merekalah yang mendapatkan keuntungan besar dibalik derasnya arus impor yang dilakukan negeri ini. 

Sebagai Negara berpenduduk mayoritas Muslim, seharusnya pemerintah tidak sembarang melakukan aksi impor dari negeri lain. Misalnya, dengan adanya impor daging sapi beku dari Australia, apakah pemerintah dapat memastikan kehalalan dan kebersihan pada dagingnya? Mengenai siapa yang memotong sapinya, disebut nama Allah atau tidak saat memotong sapinya? sampai peralatan yang digunakan dari alat pemotong hingga wadah yang digunakan terbebas dari najis atau tidak? 

Karena sebagai Muslim, kita harus cermat dan teliti dalam menentukan makanan mana yang halal dan haram untuk masuk ditubuh kita. Ini pertama, dari aspek yang wajar untuk dikritisi dari berulang kalinya pemerintah melakukan impor daging dari luar negeri. 

Kedua, pemerintah seharusnya juga memperhatikan dampak yang akan terjadi khususnya pada peternak sapi lokal atas upayanya mengimpor daging kerbau dari India. Benarkah yang dilakukan pemerintah dalam impor kerbau dari India untuk kepentingan rakyat? 

Seharusnya, dinegeri subur yang sangat cocok untuk beternak sapi ini, pemerintah tidak punya alasan untuk mengimpor sapi atau kerbau dari Negara tetangga. Karena ketersediaan pangan hewan ternak dan luasnya lahan ternak di Indonesia cukup adanya. Juga banyaknya para ahli perternakan lulusan dari perguruan tinggi jurusan, seharusnya pemerintah melibat aktifkan mereka dalam memberi solusi. 

Sangat kasihan nasib peternak sapi kalau selalu begini. Impor setiap tahun dijadikan solusi untuk mengatasi kurangnya stok daging menjelang dan persiapan lebaran. 

Ketika pemerintah selalu mengandalkan barang-barang impor ketimbang kemandirian negerinya dalam memenuhi kebutuhan. Diperparah lagi dengan jawaban pemerintah dalam menjawab pertanyaan rakyatnya misal, “Lombok mahal” dijawab “Tanam sendiri”. “Ikan dan daging mahal” dijawab “Ganti pakai keong sawah”. “Sarden bercacing” dijawab “Cacing berprotein”. Ini membuktikan bahwa para penguasa negeri ini tidak benar-benar serius dalam mengurusi urusan rakyatnya. Mereka justru sibuk pada bagaimana meraih atau mempertahankan kekuasaan. Sementara rakyatnya terkatung-katung dan diterlantarkan. 

Tetapi, hal ini memang tidak aneh lagi. Karena system Kapitalis negeri inilah yang membuat semua penyelewengan para penguasa dalam mengurusi rakyatnya terkesan wajar dan biasa. 

Sistem Kapitalisme yang segala sesuatunya harus berhubungan dengan uang, modal, pasar dan kepentingan. Tentunya yang dinikmati saja oleh para penguasa dan pengusaha. Bagaimana dengan nasib rakyat? Inilah yang diperjual belikan oleh kedua pihak ini. 

Dalam Negara Islam, bukan berarti aksi impor tidak dibolehkan sama sekali. Boleh, tetapi ketika benar-benar mendesak. Juga tentunya tidak dijadikan budaya dan andalan yang menyebabkan jatuhnya kehormatan kemandirian negerinya. Tetapi, Negara Islam yang tentunya menerapkan seluruh aturan Islam sangat mengantisipasi sebelum terjadi. Misalnya, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi daging dari para peternak. Pemerintah di negera yang menerapkan aturan Islam juga akan menyiapkan modal besar kepada rakyat yang ingin berternak. Tentunya tanpa bunga (riba) saat pengembaliannya. Juga mempermudah akses pemasaran dan pendistribusian hasil produksi dengan sarana serta prasarana yang disediakan secara gratis oleh Negara. Sehingga, rakyat bisa sejahtera. Sebagaimana dahulu Khalifah Umar bin Khatab selalu memberi modal kepada rakyatnya untuk bekerja. Agar tidak menjadi manusia malas dan pengangguran. 

Inilah yang tengah dan terus diperjuangkan oleh kaum Muslim dengan mengembalikan kehidupan Islam dalam setiap lininya. Waallahu ‘alamu bishowab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 komentar: